Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Agustus 2017

Shirathal Mustaqim

Shirathal Mustaqim

Kawan...
Semoga engkau akan menemukan jalan itu
Walau pun kau sendiri merasa asing di saat itu
Karena ini adalah kehendak
Karena ini adalah keputusan
Jangan engkau bingung
Itulah awal kelahiranmu, awal perjalananmu

Jangan pernah terbersit keinginan
Untuk menoleh ke belakang
Tataplah dengan lurus ke depan
Ia akan menunutunmu ke suatu tempat terindah
Yang belum pernah tersirat dalam pikiranmu, belum pernah terasa dalam hatimu

Jangan lagi dengarkan kicauan burung gereja
Yang terngiang di pendengaranmu
Yang akan membuat kau terlena
Yang akan membuat kau ragu

Burung-burung itu hendak merayu
Dengan suara kasihnya
Jangan kau melangkah nak
Itu hanya ilusi semu
Pengantar angan-angan putus asa
Itu hanya impian kosong
Penghibur diri bagi yang tak berdaya
Itu hanya fatamorgana
Kebohongan yang membuatmu terperdaya

Namun kicauan itu sakin nyaring
Ia adalah jalan kegelapan
Ia adalah jalan kepalsuan
Tak akan pernah kau temukan telaga kasih yang kau harapkan
Tak akan pernah kau temukan oase yang kau impikan
Di sana hanya alam yang tandus dan gersang
Kau hanya akan mendapati tetesan darah sepanjang jalan
Kau hanya akan menyaksikan tulang-tulang berserakan
Terkubur debu dan pasir gurun
Tak ada lagi kau dengarkan kicauan burung
Kecuali teriakan burung-burung bangkai yang menakutkan
Hanya suara-suara pujian Tuhan yang memekakakkan
Janji-janji sorga yang menjenuhkan dari negeri jauh
Negeri gurun dan padang pasir yang haus kematian

Kawan dengarkan aku
Jangan hiraukan nyanyian mereka
.....

Fragmen Kehidupan

Fragmen Kehidupan
Saat menjelang sore
Kulangkah kakiku tanpa jejak di jalanan peristiwa
Perjalanan yang selalu dipayungi awan hitam
Terbawa angin mendung ke arah ujung
Tetesan gerimis sang langit yang menangis
Melihat asaku yang teriris dan terkikis
Malam yang gelap
Dalam kesendirian hanya beratap langit pekat
Lamunanku mengembara jauh tak terarah
Terhempas dalam mimpi yang tak terkira
Kepada diri yang terpenjara
Kepada nasib yang sengsara

Karena...
Beban masa lalu yang tanpa hakekat
Namun membuatku semakin berat
Terlalu lelah dengan derita yang sarat
Kotoran-kotoran dosa yang semakin berkarat
Kucoba membuka mata dalam gelap malam
Kucoba menerawang jauh ke atas langit hitam
Kucoba mencari Dia dalam gugusan bintang
Kurasa betapa aku jauh dariNya
Kusadar betapa lama aku tak mengenalNya
Kucoba untuk berharap kehadiranNya
Masih bisakah aku menemukanNya
Biar ragu kuucapkan namaNya
Dengan malu kuucapkan asmaNya

Aku ingin mengenalkan diri
Kepada Rabbil 'Izati
Inilah pendosa yang tak tahu diri
Yang pernah Kau cipta untuk berbakti
Tapi selalu saja menyalahi
Tapi selalu saja menghindari
Tapi selalu saja berbangga diri
Dengan otak dan logikanya sendiri
Ya Ilahi, masihkah Engkau mengenali?
Ya Robbi, masihkah Engkau peduli?
Tuhan kenapa Engkau seperti diam?
Tuhan apakah Engkau marah, atau....

Tuhan kenapa Engkau seperti diam?
Tuhan apakah Engkau masih enggan?
Tuhan, berikanlah aku jawabanMu
Dan, jelaskanlah siapa diriku...

Jangan biarkan aku dihantui kebingungan
Jangan biarkan aku dicekam penantian

Iklan